Awal Cerita Baru : Semakin Dekat, Selanjutnya Misteri

Satu sisi semakin dekat, sisi lain semakin jauh. Memang begitulah situasinya sekarang. Mungkin aku akan membiarkan yang terjadi sekarang, sampai nanti kutemukan jawabannya.

0
28
Awal Cerita Baru: Semakin Dekat
Gambar: http://www.majelistausiyahcinta.com/2016/11/23/pecundang/siluet-wanita-muslimah/

Akhirnya selesai juga. Ucapku sambil merebahkan badan di sofa sekretariat. Persiapan yang berbulan-bulan, kegiatan yang dijalankan selama seminggu ini lumayan menguras tenaga & pikiran. Tapi semua sudah selesai dan kini sudah bisa beristirahat. Hanya tinggal merapihkan laporan untuk rektorat saja yang belum.

Kegiatan yang sebenarnya tidak bisa dikatakan lancar, namun bisa berjalan dengan baik. Kekurangan di banyak tempat, namun namanya proses pembelajaran tentu ada.

Kehebohan bukan hanya karena kegiatan yang sangat berbeda, sumber daya organisasi kami yang mulai kurang diminati, namun juga karena persoalan anak muda, apalagi kalau bukan soal hubungan kasih antar anak manusia.


Terbangun…

Aku terbangun karena suara handphone berbunyi, tanda panggilan. Sambil agak malas karena masih mengantuk, kuambil handphone dan kuangkat teleponnya.

“Halo, halo”. Ah, ternyata cuma misscall. Saat kulihat ternyata sudah ada sebuah sms yang masuk dari Nita.

“Sudah makan? Temenin cari makan yuk”. Kulihat jam di sms dari Nita, sudah 10 menit yang lalu kuterima. Pantas saja dy misscall berkali-kali. Saat kulihat jam, ternyata sudah hampir jam 8 malam. Aku tertidur setelah sholat maghrib tadi.

“Belum. Hayu. Tunggu di kost kamu”. Balasku sambil bergegas cuci muka lalu tancap gas menuju tempat Nita.

Tok.. Tok.. Tok..

“Assalamu’alaikum, Nit, Nita…”. Kuulangi sampai tiga kali namun tak ada jawaban dari dalam. Lalu kuambil handphone untuk hubungi Nita. Sudah ada sms dari nita.

“Telat! Gw udah beli makan. Ya udah tunggu disitu, udah jalan balik ke kost”. Isi pesan Nita.

Kujawab “Ok!”.


Menunggu…

Hampir 10 menit kok belum sampe juga nih anak, ucapku pada angin.

“Dimana? Kok belum sampe? Nyasar?” Kukirim sms namun belum sampai satu menit, yang kutanya sudah muncul dari gerbang.

“Kok lama? dari mana lu?” Aku membuka pembicaraan.

“Ya elu, di sms kagak bales. Di teleponin juga gak diangkat-angkat. Ya udah geli jalan ke depan. Begitu jalan pulang, lu udah sampe di tempat gw. Terpaksa gw balik lagi beli ini bwt elu.” Ucapnya sambil mengangkat sebuah bungkusan.

“Ya udah hayu makan disini aja” lanjutnya.

“Okesiap, maaf ketiduran habis sholat maghrib tadi. Gak kedengeran telepon dari lu. Hayu makan.” jawabku.

Malam itu kami makan di teras depan kamar kost Nita. Dengan ruang terbuka di tengah-tengah komplek. Ada sedikit lapangan dengan rumput hijau yang biasanya digunakan anak-anak kost menjemur pakaian.

Berbeda dengan kost untuk lelaki, apalagi kost tempatku. Hanya semacam satu rumah dengan kamar-kamar yang kemudian disewakan. Kalau berangkat pagi, kami akan berebut kamar mandi karena hanya ada satu untuk 6 kamar tidur. Hahaha…

Para mahasiswa yang menjadi pengurus unit kegiatan mahasiswa di kampus memang biasanya menggunakan kost mereka hanya untuk menumpang tidur dan menaruh pakaian saja. Selebihnya mereka beraktivitas di sekretariat organisasi sampai malam. Karena biasanya baru bisa berorganisasi selepas jam 3 sore sampai malam.

Sambil makan, Aku dan Nita ngobrol ngalur ngidul dan membahas evaluasi kegiatan yang baru selesai kemarin. Kebetulan saat ini Aku diberi amanah sebagai Ketua Umum organisasi, dan Nita adalah Ketua Pelaksana dari kegiatan yang baru saja kami selenggarakan.

“Ya udah, nanti gw bawa semua catetannya ke sekret. Sekarang balik sono, udah mau jam 9”. Ucapnya sambil beranjak dari tempat duduk.

Ada aturan umum yang berlaku di hampir seluruh kost-kostan wilayah perkampungan mahasiswa ini, waktu berkunjung hanya sampai jam 9. Kalau bandel, biasanya penjaga kost akan keliling untuk mengusir secara halus.

“Sip, gw sore baru bisa ke sekret. Ada jadwal kuliah sampe jam 2”. Kataku sambil berjalan menuju motorku.

“Assalamu’alaikum…” Dan akupun tarik gas pulang ke kost.


Semakin dekat…

Malam ini, lagi, aku tak bisa tidur. Beberapa hal menggelayuti pikiranku. Nita, yang tadinya jarang sekali komunikasi denganku, lalu sesekali, dan sekarang menjadi intens.

Semenjak kegiatan kemarin, Aku dan Nita memang semakin dekat. Mungkin karena posisi di organisasi yang membuat intensitas komunikasi kami jadi semakin sering. Padahal sebelumnya Nita layaknya oposisi. Apapun usul dan keputusanku, dia yang paling pertama membantah. Sekarang dia memang agak melunak.

Bukan hanya komunikasi yang menjadi intens, juga lainnya. Biasanya kami tidak pernah makan malam bareng, sekarang paling tidak seminggu sekali dengan waktu yang random. Biasanya kalau dia yang ajak makan malam, akan banyak cerita keluar darinya, tentang apa saja yang sedang ada di benaknya. Kalau sudah begitu, aku hanya menjadi pendengar yang baik sampai dia puas. Bahkan satu waktu, dari aku datang sampai aku pulang hanya pembicaraan satu arah.

Aku bukannya tidak menyadari hal ini, namun aku tak tau apa yang harus kulakukan. Rasanya nyaman saja dengan keadaan yang sekarang ini.

Satu sisi semakin dekat, sisi lain semakin jauh. Memang begitulah situasinya sekarang. Mungkin aku akan membiarkan yang terjadi sekarang. Toh tak ada yang dirugikan. Aku yang sedang belajar dan mulai terbiasa tanpa Rani, Nita yang ternyata bisa dijadikan teman cerita. Bukan seperti di organisasi yang cenderung menjadi oposisi.

Nita yang semakin dekat, namun berikutnya masih misteri.