Selat Sunda Tak Pernah Berjanji

0
25

“Motor merah, maju!”. Teriak petugas yang sedang mengatur kendaraan untuk menaiki kapal penyebrangan Merak – Bakauheni. Teriakan itu pula yang membuyarkan lamunanku di sore itu. Lamunan yang membuatku banyak terdiam akhir-akhir ini.

Semua bermula saat beberapa bulan yang lalu aku harus menerima surat dari Rani, orang yang cukup lama memiliki posisi spesial dalam hidupku. Suratnya saat itu membuatku terdiam penuh tanya.

“Kamu terlalu baik Randi. Kamu terlalu baik untukku”. Begitu satu kalimat yang tertulis dalam surat yang aku terima.

Ya, kami memang masih menggunakan cara konvensional untuk melukis perasaan yang kami alami, melalui surat dengan tulisan tangan. Handphone juga kami gunakan, tapi lebih untuk komunikasi hal-hal sehari-hari. Sementara untuk banyak hal, suratlah yang menjadi media.

“Kamu gak selalu ada! Aku gak bisa begini… Kamu mungkin biasa aja, tapi aku gak bisa. Jarak kita, membuat distorsi komunikasi diantara kita. Saat aku rindu, aku gak bisa lihat kamu. Saat aku butuh pundak, kamu juga gak ada. Aku tersiksa begini.” Lanjutnya di kalimat lain.


Setelah ku parkir motor, akhirnya aku bisa merebahkan tubuhku di kursi kapal. Untung kali ini tidak terlalu ramai, karena biasanya kalau ramai aku lebih memilih berada di luar ruangan untuk mencari udara segar.

Keadaan penyebrangan Merak-Bakauheni ini memang luar biasa ramai, apalagi kalau mendekati masa-masa liburan. Tak jarang aku gak kebagian kursi untuk duduk. Alhasil duduk di emperan dek adalah pilihan yang musti diambil.

Beruntung kalau sedang dapat kapal yang berusia muda. Kursinya, lantainya, pokoknya semuanya lebih masuk akal untuk kita para penumpang. Ada juga kapal yang lebih layak dijadikan kapal barang karena kecilnya ruang yang disediakan untuk penumpang.

Masuk ke ruangan, tengok kanan-kiri mencari tempat duduk yang kira-kira nyaman. Akhirnya kuputuskan duduk di sebelah kanan tengah dengan sofa panjang tanpa pembatas. Sambil berbaring, kuambil handphone sambil mengecek dan membaca sms yang masuk. Ada satu sms dari Rani,.

“Kamu sudah sampai mana Kak? Jangan lupa makan ya. Sampaikan salam untuk selat sunda. Maaf belum bisa kesana. Entah apakah bisa kesana.”.

Damn, kamu tuh ya, benar-benar membuatku kelimpungan. Aku yang berusaha terbiasa tanpa kamu, tapi malah selalu tiba-tiba hadir. Apa sih mau kamu? Aku terima semua hujatan kamu atas jarak kita lalu memutuskan hubungan. Tapi, aku perlu waktu untuk terbiasa dengan kamu yang bukan siapa-siapa. Kuputuskan untuk tak membalas smsnya.

Saat perjalanan menyeberang ini, memang yang sangat terasa bagi aku. Banyak sekali pikiran yang menggelayuti. Wajah & harapan orang tua, skripsi yang menunggu, organisasi yang mendekati puncak kegiatan. Semua seperti mengingatkan aku untuk apa semua perjalanan ini.

Tapi kali ini, kenapa ditambah kamu Rani? Aku tuh sulit menata perasaanku kalau sudah tentang kamu. Tanpa hadirmu pun, terkadang ada marah dalam hati. Mungkin aku terlalu banyak menyusun asa bersama kamu.

Mungkin aku yang belum terbiasa tanpa kamu. Perlu waktu untukku. Dan rasanya akan sulit. Karena selat sunda, selalu mengingatkan aku akan satu janji yang barangkali tidak akan pernah terwujud. Bersama kamu di atas kapal memandang matahari terbit.

Aku takkan marah pada selat sunda, toh ia tak pernah berjanji.