Share

Slide puing memoar usang

by Erni Yunita · 28 Juli 2026

Kini masa sudah tak sama, namun slide demi slide memoar usang itu seringkali menyeruak  lembut samar di sela tawa. Tawa yang hambar dan melelahkan. Diantara langkah yang tegap namun rapuh dan tatap yang tajam tapi penuh ragu. Tak yakin pada diri yang sampai di titik ini. Jeda demi jeda tak mampu membalikkan suasana. Hati ini kadang diluar nalar ki, tetiba membeki, tetiba ingin lari sejauh mungkin. Namun tetap ku coba sembunyi di balik rasa.

Membungkus fakta dalam ilusi-ilusi yang ku buat seolah iya benar adanya. Hanya aku dan Kau, sang pemilik hati, yang tau persis nya apa yang terjadi. Apa yang sebenarnya terasa dalam jiwa, tak selaras dengan apa yang dipikirkan. Menurut mu, apakah ini menyenangkan? Hmmmm… tentu tidak, kawan.

Lalu, apakah aku bisa pergi dan sembunyi? Kemudian tak lagi bertemu dia. Itu juga hal mustahil. Berkilo jarak aku berlari, beragam nuansa sudah ku ganti, episode hidup pun sudah tak sama lagi, dia…iya, dia… tetap datang, kapan saja dia mau. Tak kenal waktu dan ruang, apalagi suasana. Tak peduli aku suka atau benci, dia tetap menyeruak dengan gagah.

Aku dan dia tak saling sapa, tapi selalu jalan bersama. Aku tak suka dia, dia pun sama… tapi kami selalu disini, saling mencoba mengenali. Aku kenal dia, tapi tak membuat dia puas dan mengucap selamat tinggal. Aku rawat dia dalam senyum dan suka cita, namun dia tak berlapang dada untuk diam dan mati. Aku ikhlaskan dia menjadi bagian dari ku yang tak terpisahkan. Tapi aku izin untuk bilang, aku lelah, kawan…

Bisakah kau pergi dan benar-benar pergi? Kita memang sudah berdamai satu sama lain.  Tapi kawan, aku lelah, kau seringkali merusak suasana. Disaat aku harus berfokus untuk bercerita, kau datang menyelinap dengan gagah. Hari ini, kau buat aku tak berdaya. Kau hentikan semua logika, kau ambil semua kepercayaan ku pada diriku, kau biarkan aku tak berdaya dibawah kuasa mu. Kau jahat…

Apa aku marah, tidak kawan…mari kita kembali berdamai. Izinkan aku istirahat sejenak. Fisik ku sudah jenuh dan penat. Melawan rasa takut yang kau semburkan dengan canda, mengalahkan rasa khawatir yang tercipta dalam riak manja, melangkahi ego agar nyaman tercipta dalam jiwa. Tetap saja, kau buat ku tak berdaya. Dan aku tak kuasa untuk sekedar marah.

Tak perlu orang lain mengetahui perjuangan rasa berdamai dengan mu, karena kau adalah aku dalam sisi lain ku

You may also like