Share

Yang Dibiarkan Mengendap

by Erni Yunita · 7 Mei 2026


Langkah gontai itu, tak pernah benar-benar pergi. Dia tetap masih sangat ingin disini. Ditempat ku kini duduk dengan tumpukan PR lama yang kusut tanpa kata atau naskah. Apalagi dokumen yang tersisa. Aku meraba dan membuka satu per satu pekerjaan sambil terus mencoba berjalan agar roda ini tetap berputar pelan dan wajar. Tertatih tapi tetap harus tersenyum, berat namun tetap harus berkata ringan. Apakah rasa ini hanya aku yang punya? Tidak, tapi aku yang terpilih berjalan terus walau berat.

Lelah ini hanya senyap, tak kan terdengar oleh telinga siapapun. Sadarilah, kau memang diberi kesempatan disini untuk berbenah. Mari menolak lupa, seberapa banyak aturan yang mereka buat mendadak untuk menghalau mu.  Jika kini kau ada disini saat ini, pasti ada hal yang sangat perlu kau lakukan. Maka, lakukan sebaik yang kau bisa. Bukan untuk dapat pengakuan dari mereka, tapi itu untuk mu sendiri, kawan. Tak perlu berharap banyak, kawan… kau memang terlahir sendirian. Jangan pernah berharap pintu persahabatan terbuka dengan baik mu. Apalagi pelukan hangata untuk mendekap mu. Tidak, kawan…. dunia tak sebaik itu, sayang.

Sebelum matahari benar-benar naik, saya sudah duduk di kursi yang kini menjadi bagian dari tanggung jawab saya. Bukan warisan. Bukan pula sesuatu yang saya rebut. Itu hanya peralihan kepengurusan biasa — setidaknya di atas kertas terlihat biasa.

Tapi begitu saya membuka dokumen demi dokumen, layar demi layar, saya tahu ada sesuatu yang sudah terlalu lama dibiarkan berjalan tanpa arah. Data yang tidak sinkron. Arsip yang tercecer. Pekerjaan yang setengah selesai. Sistem yang tampak hidup dari luar, tapi sesungguhnya ditopang oleh tambalan demi tambalan. Bahkan kerusakan yang berdampak panjang. Saya tidak datang untuk menggantikan seseorang. Saya ditarik untuk merapikan kekacauan ini. Tersenyum getir, namun harus saya telan. Dan saya tahu itu sejak awal. Saya sadar betul tentang hal itu.

Tidak ada serah terima yang benar-benar utuh. Tidak ada peta yang jelas untuk membaca semua kekusutan yang tertinggal. Yang ada hanya kalimat-kalimat pendek seperti, “nanti juga ketemu sendiri,” atau “itu memang dari dulu begitu.” Lalu satu per satu masalah muncul seperti debu yang beterbangan saat lemari lama dibuka. Bukan karena saya mencarinya, tapi karena saya harus menyentuh semuanya agar pekerjaan tetap berjalan.

Saya sadar sedang dimanfaatkan. Ketika keadaan berantakan, orang yang dianggap mampu biasanya dipanggil bukan untuk diberi kemudahan — tapi untuk menanggung kekacauan yang tidak ingin disentuh orang lain. Tapi saya juga sadar siapa diri saya. Saya hanya pegawai kecil milik negara. Dan sejak awal saya memahami bahwa pengabdian tidak selalu datang dalam bentuk pekerjaan yang nyaman. Kadang pengabdian justru hadir dalam bentuk pekerjaan yang ditinggalkan orang lain karena terlalu melelahkan untuk dibereskan.

Maka saya bekerja…

Bukan karena semuanya adil. Bukan karena saya selalu dihargai. Tapi karena ada tanggung jawab yang tidak berhenti hanya di absensi dan tanda tangan. Ada tanggung jawab dunia dan akhirat.

Pada suatu malam yang terlalu panjang, ketika saya masih berada di antara kabel-kabel dan layar yang berkedip, ponsel saya berbunyi senyap memecah sunyi. Sebuah pesan masuk. Bukan tentang pekerjaan besar yang sedang saya selesaikan. Bukan tentang data yang berhasil dipulihkan. Bukan tentang kekacauan yang perlahan mulai tertata.

Tapi tentang satu angka yang salah.

Satu digit kecil. Typo sederhana.

Saya membaca pesan itu lama. Lalu tersenyum kecil — bukan karena lucu, tapi karena lelah saya seperti menemukan bentuknya sendiri malam itu.

Berbulan-bulan saya membereskan hal-hal yang bahkan tidak pernah diakui sebagai masalah. Namun satu angka yang keliru lebih mudah terlihat daripada seluruh kekacauan yang selama ini saya rapikan diam-diam.

Dan di situlah saya mulai memahami sesuatu.

Ada orang-orang yang sulit benar-benar melepaskan sebuah posisi, bukan karena mereka masih mencintai pekerjaannya, tapi karena mereka belum selesai berdamai dengan apa yang mereka tinggalkan.

Ketika seseorang lain datang lalu perlahan memperbaiki hal-hal yang dulu dibiarkan berantakan, itu bisa terasa seperti cermin yang terlalu jujur.

Maka yang dicari bukan lagi kebenaran besar. Cukup kesalahan kecil. Typo kecil. Celah kecil. Karena menemukan kesalahan pada orang lain seringkali menjadi cara termudah untuk mengecilkan rasa bersalah terhadap diri sendiri.

Bukan celahnya yang penting. Tapi perasaan lega sesaat ketika mereka berhasil membuktikan bahwa orang lain juga bisa salah.

Dan saya tidak marah pada itu.

Karena semakin lama saya bekerja, semakin saya paham, banyak orang menyerang bukan karena mereka kuat, melainkan karena mereka sedang berusaha menutupi bagian rapuh dalam dirinya sendiri.

Saya membalas pesan itu singkat. Mengakui salah. Memperbaiki. Lalu lanjut bekerja.

Karena pekerjaan ini terlalu besar untuk dihabiskan pada pertarungan kecil yang tidak mengubah apa-apa. Masih ada data yang harus diselamatkan. Masih ada sistem yang harus dibenahi. Masih ada tanggung jawab yang menunggu diselesaikan.

Dan pekerjaan, pada akhirnya, adalah sesuatu yang paling jujur. Ia tidak peduli siapa yang dipuji atau disalahkan. Ia hanya bertanya:

“Apakah kamu menjalankannya dengan sungguh-sungguh?”

Dan setiap hari, meski lelah menempel di pundak seperti debu yang tidak pernah habis dibersihkan, saya terus menjawab:

Ya.

Jika kamu pernah berada di posisi seperti ini — dipanggil bukan ketika keadaan baik-baik saja, tapi justru ketika semuanya nyaris runtuh — maka kamu tahu rasanya.

Rasanya bekerja sambil memungut sisa-sisa kekacauan yang bukan kamu buat, lalu tetap dituntut sempurna seolah semuanya sejak awal sudah rapi.

Tapi dari semua itu, saya belajar satu hal:

Orang yang benar-benar damai dengan dirinya sendiri tidak sibuk mengawasi typo orang lain. Yang terlalu sibuk mencari salah, biasanya sedang berusaha lari dari kekacauan yang pernah ia tinggalkan sendiri.

Maka saya memilih terus berjalan.

Bukan untuk membuktikan siapa yang paling benar. Tapi karena saya percaya, pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menjadi saksi untuk dirinya sendiri.

Dan dalam pengabdian, kadang yang paling penting bukan siapa yang dipuji paling keras — melainkan siapa yang tetap bekerja bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Tidak semua orang dipanggil untuk menikmati sistem yang sudah rapi.
Beberapa dipanggil untuk masuk ketika semuanya berdebu.

Untuk membereskan.
Untuk bertahan.
Untuk memastikan yang ditinggalkan setelahnya tidak lagi sama kacau seperti saat pertama diterima.

Sebab tanggung jawab bukan hanya soal jabatan.
Kadang ia adalah amanah dunia akhirat.

Terima kasih Tuhan, kesempatan ini untuk ku belajar, bertahan dan berjuang. Tidak untuk riuhnya tepuk, namun untuk senyum lega anak bangsa.

You may also like