High Availability Linux LAMP (Ubuntu Server 12.04) – Bagian 1

    0
    275

    Pada tulisan ini kita akan mempelajari bagaimana me-konfigurasi sebuah server High availability dengan Linux, Apache, MySQL, and PHP (LAMP). Sehingga ketika ada server yang menjadi tidak aktif, service AMP akan diberikan oleh cluster yang kita miliki sehingga service AMP akan tetap tersedia. Sebelum memulai, ada baiknya membaca bagaimana konfigurasi/instalasi sebuah LAMP Server pada beberapa link berikut:

    http://www.howtoforge.com/ubuntu_lamp_for_newbies
    https://help.ubuntu.com/community/ApacheMySQLPHP

    Persiapan konfigurasi

    Konfigurasi sistem high availability yang akan kita bangun secara umum akan tersusun sebagai berikut:

    • LAMP Server 1:
      hostname: node1.karedok.net
      IP Address LAN: 10.10.1.101
      IP Address private (untuk drbd): 126.10.1.1
    • LAMP Server 2:
      hostname: node2.karedok.net
      IP Address: 10.10.1.102
      IP Address private (untuk drbd): 126.10.1.2
      LAMP Server Virtual IP Address: 10.10.1.10
    • Sebuah konfigurasi Distributed Replicated Block Device (DRBD) akan melakukan mirror /srv/data antara node1 and node2

    Untuk memulai, siapkan dua unit PC dan install server Ubuntu 12.04 (Precise Pangolin). Saya melakukan simulasi dalam lingkungan virtual dengan proxmox. Hal ini mempermudah ketika ingin menambah Harddisk atau LAN Card.

    Kapasitas harddisk yang saya gunakan sebesar 250GB, dengan skema partisi seperti berikut:

    /dev/sda1 — 100 MB — /boot (primary)
    /dev/sda2 — 50 GB — Partisi LVM
    /dev/sda3 —  198GB — untuk drbd

    Tentu saja kita bisa menggunakan dua buah harddisk dengan memisahkan antara harddisk yang digunakan oleh sistem dan data yang akan dibuat mirror. Misalkan kita memiliki duah buah harddisk 250 GB & 2 TB, kita bisa menempatkan OS pada harddisk yang 250 GB dan data pada Harddisk yang 2 TB. Semua bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

    Setelah selesai dua buah installasi minimal Ubuntu server, lakukan update sistem & matikan apparmor.

    sudo apt-get update
    sudo apt-get upgrade
    sudo service apparmor teardown
    sudo update-rc.d -f apparmor remove

    Langkah lajutan yang harus kita lakukan adalah pastikan isi dari file /etc/hosts identik (alamat IP dari kedua server/node). Berikut adalah isi dari file /etc/hosts yang harus kita buat untuk konfigurasi kita:

    127.0.0.1     localhost
    10.10.1.101   node1.karedok.net    node1
    10.10.1.102   node2.karedok.net    node2
    126.10.1.1    node1-private
    126.10.1.2    node2-private

    Langkah ini berguna agar kedua server bisa dengan mudah berkomunikasi tanpa perlu bertanya ke DNS Server, yang mana ada potensi kesalahan dalam resolve hostname.

    Install NTP untuk memastikan kedua server memiliki waktu yang sama.

    apt-get -y install ntp

    Untuk memverifikasi apakah kedua server sudah menggunakan waktu yang sama, gunakan perintah date.

    Install DRBD dan heartbeat

    Install paket DRBD dan heartbeat yang akan mengatur failover system.

    apt-get -y install drbd8-utils heartbeat

    Karena kita akan menggunakan heartbeat dan DRBD, kita perlu merubah kepemilikan (ownership) dan hak akses pada beberapa file terkait dengan DRBD pada kedua server.

    chgrp haclient /sbin/drbdsetup
    chmod o-x /sbin/drbdsetup
    chmod u+s /sbin/drbdsetup
    chgrp haclient /sbin/drbdmeta
    chmod o-x /sbin/drbdmeta
    chmod u+s /sbin/drbdmeta

    File yang mengatur DRBD yaitu drbd.conf terletak di direktori /etc/. Secara default isi file tersebut hanya memuat pengaturan umum saja. Kita akan membuat konfigurasi yang sesuai dengan kebutuhan kita, yaitu resource tunggal. Maksudnya hanya terdapat satu partisi / harddisk yang akan kita buat sebagai DRBD.

    Konfigurasi DRBD

    Buka dan edit file drbd.conf dengan teks editor, (bisa vi, vim, pico, atau nano) dengan  perintah:

    nano /etc/drbd.conf

    Jika terbiasa dengan vi/vim silakan ubah nano dengan vi/vim.Contoh konfigurasi /etc/drbd.conf yang akan kita gunakan:

    resource r0 {
     protocol C;
     
     handlers {
      pri-on-incon-degr "echo o > /proc/sysrq-trigger ; halt -f";
      pri-lost-after-sb "echo o > /proc/sysrq-trigger ; halt -f";
      local-io-error "echo o > /proc/sysrq-trigger ; halt -f";
      outdate-peer "/usr/lib/heartbeat/drbd-peer-outdater -t 5";      
     }
    
     startup {
      degr-wfc-timeout 120;
     }
    
     disk {
      on-io-error detach;
     }
    
     net {
      cram-hmac-alg sha1;
      shared-secret "password";
      after-sb-0pri disconnect;
      after-sb-1pri disconnect;
      after-sb-2pri disconnect;
      rr-conflict disconnect;
     }
    
     syncer {
      rate 100M;
      verify-alg sha1;
      al-extents 257;
     }
    
     on node1 {
      device  /dev/drbd0;
      disk    /dev/vdb1;
      address 10.10.10.51:7788;
      meta-disk internal;
     }
    
     on node2 {
      device  /dev/drbd0;
      disk    /dev/vdb1;
      address 10.10.10.52:7788;
      meta-disk internal;
     }
    }

    Catatan:
    – ubah bagian password dari baris shared-secret.
    – sesuaikan dengan hostname saat pertama install, nilai didapat dengan menggunakan perintah uname -n

    Duplikat file konfigurasi DRBD ke server satunya dengan perintah:

    Duplikat file konfigurasi DRBD ke server satunya dengan perintah:

    scp /etc/drbd.conf [email protected]:/etc/

    Lakukan inisialisasi meta-data harddisk pada kedua server

    [node1] drbdadm create-md r0
    [node2] drbdadm create-md r0

    Jalankan service DRBD pada kedua server.

    [node1] /etc/init.d/drbd start
    [node2] /etc/init.d/drbd start

    Tentukan server mana yang akan bertindak sebagai server primer untuk perangkat yang akan memuat file konfigurasi paket LAMP dan kita perlu melakukan sinkronisasi penuh untuk pertama kali antara kedua server. Jalankan perintah berikut pada node1 (server primer):

    [node1] drbdadm -- --overwrite-data-of-peer primary r0

    Lalu lihat status dari proses sinkronisasi dengan menjalankan perintah:

    cat /proc/drbd

    Contoh hasil perintah diatas:

    IT-hash: 9ba8b93e24d842f0dd3fb1f9b90e8348ddb95829 build by ivoks@ubuntu, 2009-01-17 07:49:56
     0: cs:SyncSource ro:Primary/Secondary ds:UpToDate/Inconsistent C r---
        ns:761980 nr:0 dw:0 dr:769856 al:0 bm:46 lo:10 pe:228 ua:256 ap:0 ep:1 wo:b oos:293604
            [=============>......] sync'ed: 72.3% (293604/1048292)K
            finish: 0:00:13 speed: 21,984 (19,860) K/sec
     1: cs:Connected ro:Secondary/Secondary ds:Inconsistent/Inconsistent C r---
        ns:0 nr:0 dw:0 dr:0 al:0 bm:0 lo:0 pe:0 ua:0 ap:0 ep:1 wo:b oos:10485692

    Kita bisa juga memonitor secara real-time proses diatas dengan menggunakan perintah watch:

    watch cat /proc/drbd

    Perintah diatas akan menampilkan setiap perubahan yang terjadi secara real-time tiap 2 detik. Untuk keluar dari mode watch gunakan perintah ctrl+c Tunggu sampai proses sinkronisasi selesai sebelum melanjutkan ke langkah berikutnya. Proses ini akan memakan waktu tergantung dari spek dan kapasitas harddisk yang digunakan. Jika proses sinkronisasi telah selesai, kita perlu memformat drive drbd dan mounting ke salah satu direktori. Lakukan hanya di server primer.

    [node1] mkfs.ext4 /dev/drbd0
    [node1] mount /dev/drbd0 /srv/

    Untuk mengetes apakah konfigurasi sudah benar, kita akan buat sebuah file pada direktori dimana drbd kita pasang. Dalam hal ini berarti pada direktori /srv/.

    [node1] dd if=/dev/zero of=/srv/test.zeros bs=1M count=100

    Perintah diatas akan membuat satu file berukuran 100MB dengan nama file test.zeros. Masuk ke direktori /srv/ dan lihat apakah file yang tadi kita buat ada disana.

    [node1] cd /srv/
    [node1] ls

    Selanjutnya kita akan coba pindah ke node2 apakah file yang tadi kita buat juga ikut pindah kesana. Tapi sebelumnya kita harus unmount DRBD di node1 dan jadikan sebagai secondary, lalu buat node dua sebagai primary dan mount ke salah satu direktori. Pada node1:

    [node1]cd /
    [node1]umount /srv
    [node1]drbdadm secondary r0

    Pada node2:

    [node2]drbdadm primary r0
    [node2]mount /dev/drbd0 /srv
    [node2]ls –lh /srv/

    Sekarang seharusnya kita bisa melihat file test.zeros berukuran 100MB pada node2. Langkah berikutnya kita akan lihat apakah konfigurasi DRBD sudah berjalan dengan baik dalam dua arah. Kita hapus file test.zeros tersebut dan kembalikan node 1 sebagai server primer. Hapus dan kembalikan mode primer ke server1. Pada node2:

    [node2]rm /srv/test.zeros
    [node2]umount /srv
    [node2]drbdadm secondary r0

    On node1:

    [node1]drbdadm primary r0
    [node1]mount /dev/drbd0 /srv

    Lakukan perintah ls /srv/ pada node1 untuk melihat apakah file yang tadi kita hapus masih ada atau sudah hilang dan apakah sinkronisasi berjalan sukses pada kedua arah.

    Sebelumnya: https://karedok.net/buku/high-availability-linux-lamp/
    Berikutnya: https://karedok.net/buku/high-availability-linux-lamp/ubuntu-server-12-04/bagian-2/