Hujan, Rindu, Kenangan

0
108
Hujan

Hujan di luar jendela bermakna beda kali ini. Begitu syahdu memecah keheningan alam yang tak terganggu. Bulir-bulir hujan beriringan memanjakan rumput yang menghampar hijau. Entah mengapa rintiknya menyentuh kalbu yang merindu. Tahun ke-7 tanpa hadir mu, cahaya hidupku. Rindu ini semakin menyiksa kala ku tersadar, tak hanya ruang dan waktu yang memisahkan kita, tapi kini selat sunda menghalangi langkah ku menelusuri kenangan-kenangan bersama mu.

Sore begini kau seringkali mengajak ku ke sawah melihat padi kita yang sedang menguning. Menyapa para saudara yang sedang asyik bersenda gurau dengan lumpur dan bulir padi. Sekedar bercengkerama sambil menikmati singkong dan pisang rebus di pondok reot sawah kita. Sambil minum air kelapa muda di sebelah pondok kita.

Gemericik air hujan makin membangkitkan kenangan bersamamu. Seringkali kau sengaja ajak aku kecil menelusuri jalanan lumpur pematang sawah, sambil mengajarkan menghargai jerih payah si padi hingga menjadi nasi. Kau pun ajak aku berjalan kaki sampai rumah kita. Saat aku lelah karena jarak yang lumayan jauh, melewati dua desa, kau selalu menghiburku dengan menceritakan masa lalu mu yang tak begitu manis. Menertawakan lelucon jenaka yang sengaja kau karang untuk ku. Tak jarang juga kau ajak aku silaturahmi dengan handai taulan di sepanjang perjalanan pulang kita.

Pernah satu ketika, aku mendapati mu tak diperlakukan baik saat bersilaturahmi. Aku marah, tapi kau hanya tersenyum. Biarkan mereka marah, kita tak perlu marah. Mereka tetap saudara kita. Ujarmu di senja itu. Aku tak mengerti maksudmu kala itu, tapi memori itu menyelinap kuat diingatan ku. “Silaturahmi itu membawa rejeki, nak….kamu jadi kenal dengan keluarga besar. Tak boleh pilah pilih saudara, semua sama, manusia. Terlepas bagaimana mereka bersikap“. Itu selalu nasehatmu pada ku.

Senyum mu yang selalu menghiasi wajah mengingatkan ku pada akhlak rasulullah yang selalu kau ceritakan pada kami berlima menjelang tidur. Penuh lemah lembut, kau mengajarkan kami sabar dan ikhlas. Jalani hidup dengan bahagia, tanpa banyak mengeluh. Rahasia Allah tak perlu ditanya, pasti indah yang tercipta.

Setiap aku meminta sesuatu, kau selalu ajarkan aku untuk berusaha. Masih tertancap jelas di memori, beberapa kali aku harus turun ke sawah saat libur sekolah. Membantu menanam padi, membersihkan rumput di sela padi dan pematang sawah, memanen padi dan mengangkutnya bersama ke rumah kita. Baru aku boleh minta di belikan sepatu baru.

Sampai aku kuliah kau masih sering mengajak ku ke sawah menemani mu mengantarkan bekal buat saudara yang membantu di sawah. Kita tidak lagi berjalan kaki. Kita berdua naik motor tua yang suara knalpotnya “cempreng” memecah telinga. Kau masih tetap menyapa setiap orang yang ditemui di pinggir jalan. Walaupun suara mu kalah oleh suara deru motor itu. Aku merindukan mu, emak….

Waktu aku tidak mau melanjutkan kuliah, karena melihat kondisi perekonomian keluarga kita. Kau ajak aku melihat kejamnya hidup tanpa ilmu di kepala. Pagi buta kau bangunkan aku, lalu Kita berdua naik tebing berkarang menuju kebun cabe yang kau tanam bersama nenek. Sekitar satu setengah jam berjalan kaki. Lumayan seru, panen cabe dimulai. Beberapa kali aku tergelincir dan keranjang cabe pun berantakan. Kaki ku membiru di sana sini, berciuman dengan batu karang yang bertebaran tak beraturan. Kau hanya tersenyum menatap ku dari kejauhan.

Matahari sore itu tak seindah biasanya. Tertutupi semua siluet senja oleh kelelahan hati dan raga ku. Memikirkan perjalanan menuju rumah yang akan menyita semua sisa tenaga ku, membuat ku tak bisa menikmati sunset di sudut pematang karang. Tak sepatah katapun yang kau keluarkan untuk mengusir lelah ku, hanya senyum yang selalu kau lempar penuh kebahagiaan. Hati kecil ku marah dan tak terima tak mengerti apa maksudmu.

Emak, semoga peluk Allah mendekapmu hangat di peristirahatan abadimu. Maafkan anakmu yang masih belum bisa sehebat kamu, yang masih banyak mengeluh walau sudah lebih nyaman. Maaf…

Hujan datang membawa rindu disertai beribu kenangan. Entah siapa yang merangkai kalimat, tapi aku setuju. Hujan itu 10% air, 90% rindu dan kenangan.

Artist: Last Child, Lagu: Sekuat Hatimu