Metafora Rasa

0
322

Tertawa tapi nyatanya hati tak ceria. Bersama, namun hanya pura-pura ada. Jiwa sedang tidak pada tempatnya. Raga mu meninggalkan jiwa entah berkelana kemana. Menelusuri lorong sempit penuh delusi. Beragam bingkai foto dan video terangkum menjadi ilusi yang sungguh terdistorsi. Bulir bening perlahan mengalir mengikuti gravitasi. Menyampaikan pada bumi bahwa diri tak lebih dari kisi-kisi bahkan jeruji.

Lelah, namun sadar betul inilah dunia. Tempat jiwa merajut lelah dalam senyawa. Wajah ramah, senyum sumringah, tangan tengadah, tak berarti kau menjadi bagian nya. Tak usah jumawa, dunia bukan milik mu saja. Tetaplah berdiri dalam kerendahan hati. Karena rendah hati adalah kunci mengisi nurani. Agar tak kerdil menyelimuti hati. Buka dan sambut gembira nasihat diri, tak perlu pandang siapa diri. Anggap saja bisikan dari ilahi Rabbi.

Penerimaan bukan sebuah keharusan. Tak peduli betapa mulia dalam asal mu. Kau datang, marilah beradaptasi. Tak pandang lagi harkat diri, hadirmu harus memeriahkan mimpi. Entah mimpi siapa, tak perlu kau tanya. Tak penting melihatnya. Lapangkan hati dan tundukan diri, selalu ilahi Rabbi pemilik hati. Setiap langkah adalah penuntun dalam menjalani garis takdir. Merangkai mimpi-mimpi agar mampu bersinergi. Nyata dalam anugerah Nya.

Metafora Rasa jadikan penawar dahaga mengarungi dunia. Hati dalam kuasaNya, berserah dan berpasrah. Ingin teriak, tapi adab etika melarangnya. Penat, sesak, dan beragam rasa tak nyaman lainnya, hanya mampu dipendam dalam diam. Bisu bukan tanpa alasan. Menjadi pilihan terbaik jika suara mu hanya akan mengurai luka. Niat baik tak selalu diartikan sama. Bahkan bisa juga bertolak dan malah menusuk dirimu. Menghujamkan luka di atas perih yang belum sembuh.

Mengapa metafora lebih indah walau dengan nuansa jiwa yang tak senada? Rasa yang termanipulasi manis dalam Kilauan retorika. Senarai literal memalingkan wajah yang tak suka. Dasarnya hati memang membenci, jadi tak perlu diri berkecil hati. Hidupmu dalam genggaman Nya, bukan dalam metafora rasa. Teruskan melangkah dengan susunan nada yang bermakna, nyata dan hangat penuh cinta.

Tetaplah tenang dalam selimut takwa. Ada Allah yang akan selalu ada. Seringai dunia tak kan membawa luka, jika hatimu tak mengizinkannya. Diam mu bukan berarti tak peduli, tapi demi jiwa mu yang juga butuh nutrisi. Lingkungan tak bisa dihindari, pintar-pintar bersosialisasi dengan tetap dalam batas diri. Kewarasan lebih utama dari sekedar berbaik Budi. Terima kasih wahai diri, percayalah dunia akan baik-baik saja.

Untuk mu, jiwa yang gelisah…

Mari diskusi

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.