Sabtu, 03 Desember 2022
BerandaModul/BukuRefleksi Nilai dan Peran Guru Penggerak

Refleksi Nilai dan Peran Guru Penggerak

Model refleksi 4C, yaitu Connection, challenge, concept, change yang dikembangkan oleh Ritchhart, Church dan Morrison (2011).


Tantangan besar di masa depan lebih berat bagi seorang guru yang tak hanya berperan sebagai pengajar tapi juga pendidik. Ditengah disrupsi teknologi banyak hal baru yang membawa perubahan besar. Perubahan fundamental akibat perkembangan sistem teknologi digital. Kehadiran teknologi digital membawa berbagai perubahan tak terkecuali dunia pendidikan. Kemunculan disrupsi teknologi ini kemudian menantang dan memaksa guru juga berperan ganda sebagai kontrol dalam penyaringan pengaruh buruk di tengah tingginya antuisiasme masyarakat dalam menikmati teknologi digital yang hadir pada masa ini.

Jika guru sekedar sumber ilmu, maka mesin pencari jauh lebih handal mengeksplorasi semua ilmu. Guru diharapkan dapat memainkan peran lebih besar yang tak bisa tergantikan dengan teknologi robotik. Menuntun budi pekerti dan akhlak yang luhur di tengah gempuran budaya yang tak tersaring di tengah pergaulan masyarakat adalah tugas yang tak kan tergantikan dari seorang guru. Guru sebagai pemimpin perubahan dalam ekosistem pendidikannya masing-masing. Kepemimpinan seorang guru hendaknya selaras dengan keterampilan ataupun kompetensi yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Melalui Pendidikan guru penggerak, diharapkan tercipta guru-guru yang kompeten memimpin perubahan. Guru Penggerak diharapkan mampu memaknai dan menjalankan filosofi among Ki Hadjar Dewantara: Ing Ngarso Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, serta Tut Wuri Handayani. Selain itu, guru penggerak diharapkan menjadi Coach Bagi Guru Lain, terutama yang terkait dengan peningkatan kualitas pembelajaran bagi murid di sekolah.

Peran lain yang tak kalah penting nya adalah mendorong kolaborasi. Guru Penggerak harus punya pandangan apresiatif yang memungkinkan pengungkapan potensi positif rekan yang lain. Mereka membuka lebih banyak ruang dialog positif antar guru, antara guru dan pemangku kepentingan baik di dalam maupun di luar sekolah demi meningkatkan kualitas pembelajaran bagi murid. Guru Penggerak diharapkan mengambil peran untuk mewujudkan kepemimpinan murid. Untuk itu, Guru Penggerak perlu memahami bagaimana meramu pengalaman belajar sedemikian rupa sehingga murid merasa kompeten, mandiri, dicintai, dan memiliki kepercayaan diri serta determinasi untuk mencapai segala yang mereka impikan. Guru Penggerak menuntun murid mereka belajar merdeka untuk merdeka belajar. Peran Guru Penggerak juga diharapkan dapat mengambil peran untuk menggerakkan komunitas praktisi di sekolah dan di wilayahnya. Agar komunitas praktisi dapat berjalan secara berkesinambungan, Guru Penggerak pun perlu menumbuhkan budaya belajar kolaboratif atau komunitas belajar profesional bersama para rekan guru di sekolah maupun wilayahnya.

Pembelajaran modul Nilai dan peran guru penggerak sangat erat kaitannya dengan pematangan konsep guru untuk menjalankan perannya sebagai pembawa perubahan. seperti contohnya materi kebajikan universal, bagaimana manusia tergerak, bergerak, dan menggerakkan. Bagimana cara kerja otak, sistem berpikir cepat dan lambat, kebutuhan Genetis atau kebutuhan dasar manusia, tahap tumbuh kembang anak – Wiraga-wirama Ki Hadjar Dewantara, tahap perkembangan psikososial Erik Erikson. Semua terangkum dengan baik dalam rangka membangun konsep kematangan berpikir seorang guru. Dengan menuntun kekuatan kodrat manusia melalui penguatan lingkaran pengaruh dan memahami diagram identitas gunung es, yang mana identitas nilai keyakinan dan kepercayaan yang tidak terlihat dari permukaan lebih berpengaruh terhadap karakter seseorang.

Pernyataan yang cukup mengguncang ruang pikir saya sebagai seorang guru pemula. “Manusia tergerak oleh peristiwa/momen (suasana/proses). Jadi penting untuk menyajikan peristiwa/momen yang memungkinkan anak belajar mengelola yang tergerak dalam diri mereka”. Seringkali saya mengabaikan momen-momen yang berpotensi mendorong anak menjadi pembelajar. Lebih dominan saya menuntut mereka mematuhi kurikulum yang tertulis. Pencapaian ketuntasan materi membuat saya mengabaikan minat, bakat bahkan perasaan murid. Tujuan utama pembelajaran hanya berfokus pada penyelesaian administrasi dan sederet angka KKM di laporan hasil belajar mereka. terlepas apakah mereka sudah mampu memahami dan menerapkan makna belajar untuk kehidupan keberlanjutan mereka? apakah sudah mampu membentuk kemandirian dan kebermaknaan hidup? Semua seakan terlupa dan terlepas dari tanggung jawab saya. Miris, tapi terus saya lakukan demi keberhasilan kurikulum,bukan kebahagian murid.

“Kenali otak kita, terimalah, dan beri waktu untuk belajar. Walaupun kita hidup di era teknologi abad 21 tapi otak kita sangat tua, bagian-bagiannya serupa otak primata, otak mamalia, otak reptil jadi beri otak kita waktu untuk menyesuaikan”. Kalimat ini seperti pukulan keras di batang otak. Kepala mulai memainkan sesi-sesi pembelajaran yang penuh dengan kesombongan. Awalnya saya berpikir, semua harus ditanggapi dengan cepat, sebagai respon kepeduliaan kita terhadap stimulus. Ternyata, otak kita butuh berpikir lambat, untuk menyesuaikan. Sehingga, fokus kita tidak melulu soal kemampuan yang terlihat kasat mata, tapi kita sebagai guru juga bisa mempertimbangkan sisi “gunung es” yang tidak terlihat. Guru bisa menjadi lebih bijak menilai dengan kacamata kasih sayang. Sehingga terlihat semua potensi yang tersamarkan tersebut.

Sebagai calon guru penggerak, memahami transformasi demi menjangkau kepentingan lebih banyak murid tidak akan mampu dilakukan sendirian, perlu menggerakkan lebih banyak guru, lebih banyak pihak. Agar mampu menggerakkan orang lain agar berdampak pada murid, perlu membangun lingkaran pengaruh. Dalam lingkaran pengaruh, kita punya “kuasa” dan kepercayaan diri untuk menjalankan inisiatif perubahan pada dimensi: diri, orang lain, institusi, dan lingkungan-masyarakat. Dalam masing-masing dimensi, kita perlu menguatkan relasi (saling percaya, saling menghormati, saling bebas berekspresi), agar terbukalah komunikasi (dialog, terhubung hati dengan hati), lalu memungkinkan kolaborasi, hingga menghadirkan kontribusi. Perubahan dapat terjadi di dalam lingkaran pengaruh dari waktu ke waktu, seiring dengan makin kuat dan kompeten nya kita, maka lingkaran pengaruh pun makin meluas. 

Selanjutnya membangun lingkaran kepedulian dan lingkaran perhatian. Kita tidak punya kuasa langsung atau kuasa cukup untuk menjalankan dan mempengaruhi perubahan. Lalu lingkaran perhatian, kita tidak punya kuasa apa-apa untuk mempengaruhinya langsung. Untuk itu, kita tidak perlu menghabiskan terlalu banyak energi dan pikiran untuk stress ketika tidak mampu melakukan perubahan di lingkaran kepedulian atau lingkaran perhatian. Nikmati proses menguatkan dan memperluas pengaruh sedikit demi sedikit, orang demi orang. Mulailah dengan menguatkan lingkaran pengaruh dari dimensi diri sendiri. Dengan demikian,kita mampu menempatkan diri untuk berpikir sebagai pemimpin di tataran individu, maupun mengadopsi pemikiran strategis di tataran ekosistem pendidikan, sesuai lingkaran pengaruh yang kita miliki, dalam hal ini yang sudah pasti adalah murid di kelas dan rekan lain di sekolah, sehingga mampu memfasilitasi gotong-royong dalam mencari jawaban sebagai penyelaras konteks (context setter), bukan sekedar sebagai penyedia jawaban. Konsep ini yang akan terus saya terapkan dan pahamkan sebagai bekal melangkah membawa amanah sebagai guru.

Perubahan yang ingin saya lakukan dalam diri setelah mendapatkan materi nilai dan peran guru penggerak adalah memperluas pengalaman, menggali potensi diri, serta mengasah terus kompetensi dengan terus belajar. Guru itu pembelajar sepanjang hayat. Saat guru berhenti belajar, maka dia berhenti menjadi guru. Saya akan terus belajar dan bertransformasi seiring kemajuan zaman dan teknologi. Silih berganti murid dengan beragam sifat dan karakter menuntut saya untuk terus membekali diri dengan ilmu pengetahuan agar tidak tergilas zaman. Menuntun bukan hal mudah, menjadi penuntun harus memiliki pondasi yang kokoh. Bagaimana bisa menuntun jika diri sendiri tak paham akan kemana. Pekerjaan mulia ini tidak hanya berhenti di dunia, perhitungan dan pertanggungjawaban sampai ke akhirat. Figur guru melekat pada diri seseorang, sehingga perlu terus memperbaiki karakter dan prinsip diri. Teguh memegang nilai-nilai kebajikan agar mampu menjadi sosok yang di gugu dan ditiru.

Erni Yunita
Erni Yunitahttp://karedok.net
Seorang Istri yang kebetulan juga seorang staf pengajar di salah satu Sekolah Menengah Atas di Tangerang. Lahir dan besar di Panggal-panggal, Baturaja, OKU. Menyelesaikan pendidikan di Universitas Lampung FKIP Pendidikan biologi. Sangat bersyukur dengan karunia tiga orang anak.
RELATED ARTICLES

Mari diskusi

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments